WORKSHOP MECHANICAL VENTILATOR

artikel dok desi dan do uci
dr. Desi Arisanti, dr. Tri Suci Ramadhani

Pada tanggal 14-15 maret 2017, delegasi dari RSU Kota Tangerang Selatan yang diwakili oleh dr. Desi Arisanti dan dr. Tri Suci Ramadhani mengikuti  Workshop on Mechanical Ventilator: From Basic Theory to Clinical Practice. Pelatihan ini diadakan oleh PERDICI di SGCC Hotel Harris Sunset Road, Bali. Dalam pelatihan yang diikuti 23 orang dari seluruh Indonesia ini dibahas mengenai dasar-dasar ventilasi manusia hingga praktik klinis ventilasi mekanik.

Dasar-dasar ventilasi yang dibahas dimulai dari fisiologi pertukaran gas, mekanika pernapasan, gagal napas akut, ARDS, hingga terapi oksigen yang paling sederhana sekalipun dibahas dalam pelatihan ini. Pada dasarnya, mekanika pernapasan manusia sesederhana inspirasi dan ekspirasi. Begitu pula dengan prinsip ventilator. Target penggunaan alat bantu napas pada dasarnya adalah mengeliminasi CO2, memperbaiki oksigenasi, dan membantu kerja otot pernapasan, tanpa merusak paru. Inilah tujuan dasar diadakannya pelatihan ventilasi mekanik secara rutin, yaitu mengurangi angka Ventilator Induced Lung Injury (VILI).

Selain teori dasar-dasar ventilasi, dalam pelatihan ini dibahas pula mengenai macam-macam mode ventilator mulai dari mode dasar (CMV, ACMV, PCV, SIMV, PSV, CPAP), penggunaan positive end expiratory pressure (PEEP), hingga mode alternatif (VAPS, VS,PRVC, PAV, ASV,BiPAP, APRV, NAVA, HFOV).Pada dasarnya, klinisi harus mengetahui indikasi penggunaan alat bantu nafas. nafas dikatakan tidak adekuat bila kerja nafas meningkat sehingga pasien tampak kelelahan, laju nafas lebih dari 30-35 kali permenit, PaO2 < 50-60 mmHg, PaCO2 cenderung meningkat, dan pH cenderung turun. Secara umum perjalanan klinis pasien (nilai kecenderungan) lebih berharga daripada hasil analisa gas darah sesaat. Nilai keasaman oksigen dalam darah tidak dapat digeneralisasi untuk semua kondisi pasien, terutama pasien COPD yang sudah terbiasa dengan kadar PaCO2 tinggi dalam darahnya, target bantu nafas yang diberikan harus menyesuaikan dengan kondisi pasien.

Interaksi jantung-paru dan recruitment maneuver merupakan dua topik yang menurut kami sangat menarik dibahas dalam pelatihan ini. Secara “ekonomi kardio-respiratorik”, peningkatan O2 delivery oleh bantuan ventilasi mekanik berimbas pada peningkatan O2 content  (peningkatan hemoglobin, saturasi oksigen, peningkatan PaO2) dan peningkatan cardiac output, sementara penurunan O2 consumption berdampak pada penurunan work of breathing pasien dan penurunan laju metabolisme (suhu, sepsis, exercise). Pada pelatihan ini kami diajarkan mengenai recruitment maneuver, yakni penggunaan PEEP untuk mengaktifkan kembali alveoli yang sudah kolaps atau terjadi atelektasis. Hal ini merupakan hasil dari percobaan yang dilakukan para ahli dan terbukti dapat meningkatkan jumlah alveoli yg “hidup” sehingga ventilasi dan perfusi dapat ditingkatkan.

Pelatihan ventilasi mekanik ini dilaksanakan dalam rangkaian National Meeting of ISICM dimana pelatihan ini merupakan pre symposium workshop. Selanjutnya pada tanggal 16-17 Maret 2017 kami mengikuti simposium tersebut. Hadir dalam acara tersebut Professor Marcello Amato yang merupakan key speaker dalam simposium tersebut. Beliau menekankan kepada peserta bahwa yang terpenting bukanlah PEEP ataupun Ppeak, melainkan driving pressure, yakni selisih dari keduanya dan tekanan inilah yang menentukan aktivasi alveoli dan pembatas supaya tidak terjadi VILI. Topik-topik menarik lainnya pun dibahas, karena simposium ini adalah joint symposium ISICM dan INASPEN, maka topik mengenai nutrisi pasien intensif pun mengemuka dalam simposium ini.

Sebagai penutup, kami mengharapkan setiap praktisi klinik yang bekerja di ruang intensif dapat mengikuti pelatihan ventilasi mekanik karena pelatihan tersebut sangat penting dan krusial dalam pekerjaan intensivist sehari-hari.  Hal tersebut bertujuan untuk menurunkan angka kematian pasien akibat terlambatnya pemberian bantuan ventilasi mekanik maupun akibat VILI.

Pada tanggal 14-15 maret 2017, delegasi dari RSU Kota Tangerang Selatan yang diwakili oleh dr. Desi Arisanti dan dr. Tri Suci Ramadhani mengikuti  Workshop on Mechanical Ventilator: From Basic Theory to Clinical Practice. Pelatihan ini diadakan oleh PERDICI di SGCC Hotel Harris Sunset Road, Bali. Dalam pelatihan yang diikuti 23 orang dari seluruh Indonesia ini dibahas mengenai dasar-dasar ventilasi manusia hingga praktik klinis ventilasi mekanik.

Dasar-dasar ventilasi yang dibahas dimulai dari fisiologi pertukaran gas, mekanika pernapasan, gagal napas akut, ARDS, hingga terapi oksigen yang paling sederhana sekalipun dibahas dalam pelatihan ini. Pada dasarnya, mekanika pernapasan manusia sesederhana inspirasi dan ekspirasi. Begitu pula dengan prinsip ventilator. Target penggunaan alat bantu napas pada dasarnya adalah mengeliminasi CO2, memperbaiki oksigenasi, dan membantu kerja otot pernapasan, tanpa merusak paru. Inilah tujuan dasar diadakannya pelatihan ventilasi mekanik secara rutin, yaitu mengurangi angka Ventilator Induced Lung Injury (VILI).

Selain teori dasar-dasar ventilasi, dalam pelatihan ini dibahas pula mengenai macam-macam mode ventilator mulai dari mode dasar (CMV, ACMV, PCV, SIMV, PSV, CPAP), penggunaan positive end expiratory pressure (PEEP), hingga mode alternatif (VAPS, VS,PRVC, PAV, ASV,BiPAP, APRV, NAVA, HFOV).Pada dasarnya, klinisi harus mengetahui indikasi penggunaan alat bantu nafas. nafas dikatakan tidak adekuat bila kerja nafas meningkat sehingga pasien tampak kelelahan, laju nafas lebih dari 30-35 kali permenit, PaO2 < 50-60 mmHg, PaCO2 cenderung meningkat, dan pH cenderung turun. Secara umum perjalanan klinis pasien (nilai kecenderungan) lebih berharga daripada hasil analisa gas darah sesaat. Nilai keasaman oksigen dalam darah tidak dapat digeneralisasi untuk semua kondisi pasien, terutama pasien COPD yang sudah terbiasa dengan kadar PaCO2 tinggi dalam darahnya, target bantu nafas yang diberikan harus menyesuaikan dengan kondisi pasien.

Interaksi jantung-paru dan recruitment maneuver merupakan dua topik yang menurut kami sangat menarik dibahas dalam pelatihan ini. Secara “ekonomi kardio-respiratorik”, peningkatan O2 delivery oleh bantuan ventilasi mekanik berimbas pada peningkatan O2 content  (peningkatan hemoglobin, saturasi oksigen, peningkatan PaO2) dan peningkatan cardiac output, sementara penurunan O2 consumption berdampak pada penurunan work of breathing pasien dan penurunan laju metabolisme (suhu, sepsis, exercise). Pada pelatihan ini kami diajarkan mengenai recruitment maneuver, yakni penggunaan PEEP untuk mengaktifkan kembali alveoli yang sudah kolaps atau terjadi atelektasis. Hal ini merupakan hasil dari percobaan yang dilakukan para ahli dan terbukti dapat meningkatkan jumlah alveoli yg “hidup” sehingga ventilasi dan perfusi dapat ditingkatkan.

Pelatihan ventilasi mekanik ini dilaksanakan dalam rangkaian National Meeting of ISICM dimana pelatihan ini merupakan pre symposium workshop. Selanjutnya pada tanggal 16-17 Maret 2017 kami mengikuti simposium tersebut. Hadir dalam acara tersebut Professor Marcello Amato yang merupakan key speaker dalam simposium tersebut. Beliau menekankan kepada peserta bahwa yang terpenting bukanlah PEEP ataupun Ppeak, melainkan driving pressure, yakni selisih dari keduanya dan tekanan inilah yang menentukan aktivasi alveoli dan pembatas supaya tidak terjadi VILI. Topik-topik menarik lainnya pun dibahas, karena simposium ini adalah joint symposium ISICM dan INASPEN, maka topik mengenai nutrisi pasien intensif pun mengemuka dalam simposium ini.

Sebagai penutup, kami mengharapkan setiap praktisi klinik yang bekerja di ruang intensif dapat mengikuti pelatihan ventilasi mekanik karena pelatihan tersebut sangat penting dan krusial dalam pekerjaan intensivist sehari-hari.  Hal tersebut bertujuan untuk menurunkan angka kematian pasien akibat terlambatnya pemberian bantuan ventilasi mekanik maupun akibat VILI.

Pada tanggal 14-15 maret 2017, delegasi dari RSU Kota Tangerang Selatan yang diwakili oleh dr. Desi Arisanti dan dr. Tri Suci Ramadhani mengikuti  Workshop on Mechanical Ventilator: From Basic Theory to Clinical Practice. Pelatihan ini diadakan oleh PERDICI di SGCC Hotel Harris Sunset Road, Bali. Dalam pelatihan yang diikuti 23 orang dari seluruh Indonesia ini dibahas mengenai dasar-dasar ventilasi manusia hingga praktik klinis ventilasi mekanik.

Dasar-dasar ventilasi yang dibahas dimulai dari fisiologi pertukaran gas, mekanika pernapasan, gagal napas akut, ARDS, hingga terapi oksigen yang paling sederhana sekalipun dibahas dalam pelatihan ini. Pada dasarnya, mekanika pernapasan manusia sesederhana inspirasi dan ekspirasi. Begitu pula dengan prinsip ventilator. Target penggunaan alat bantu napas pada dasarnya adalah mengeliminasi CO2, memperbaiki oksigenasi, dan membantu kerja otot pernapasan, tanpa merusak paru. Inilah tujuan dasar diadakannya pelatihan ventilasi mekanik secara rutin, yaitu mengurangi angka Ventilator Induced Lung Injury (VILI).

Selain teori dasar-dasar ventilasi, dalam pelatihan ini dibahas pula mengenai macam-macam mode ventilator mulai dari mode dasar (CMV, ACMV, PCV, SIMV, PSV, CPAP), penggunaan positive end expiratory pressure (PEEP), hingga mode alternatif (VAPS, VS,PRVC, PAV, ASV,BiPAP, APRV, NAVA, HFOV).Pada dasarnya, klinisi harus mengetahui indikasi penggunaan alat bantu nafas. nafas dikatakan tidak adekuat bila kerja nafas meningkat sehingga pasien tampak kelelahan, laju nafas lebih dari 30-35 kali permenit, PaO2 < 50-60 mmHg, PaCO2 cenderung meningkat, dan pH cenderung turun. Secara umum perjalanan klinis pasien (nilai kecenderungan) lebih berharga daripada hasil analisa gas darah sesaat. Nilai keasaman oksigen dalam darah tidak dapat digeneralisasi untuk semua kondisi pasien, terutama pasien COPD yang sudah terbiasa dengan kadar PaCO2 tinggi dalam darahnya, target bantu nafas yang diberikan harus menyesuaikan dengan kondisi pasien.

Interaksi jantung-paru dan recruitment maneuver merupakan dua topik yang menurut kami sangat menarik dibahas dalam pelatihan ini. Secara “ekonomi kardio-respiratorik”, peningkatan O2 delivery oleh bantuan ventilasi mekanik berimbas pada peningkatan O2 content  (peningkatan hemoglobin, saturasi oksigen, peningkatan PaO2) dan peningkatan cardiac output, sementara penurunan O2 consumption berdampak pada penurunan work of breathing pasien dan penurunan laju metabolisme (suhu, sepsis, exercise). Pada pelatihan ini kami diajarkan mengenai recruitment maneuver, yakni penggunaan PEEP untuk mengaktifkan kembali alveoli yang sudah kolaps atau terjadi atelektasis. Hal ini merupakan hasil dari percobaan yang dilakukan para ahli dan terbukti dapat meningkatkan jumlah alveoli yg “hidup” sehingga ventilasi dan perfusi dapat ditingkatkan.

Pelatihan ventilasi mekanik ini dilaksanakan dalam rangkaian National Meeting of ISICM dimana pelatihan ini merupakan pre symposium workshop. Selanjutnya pada tanggal 16-17 Maret 2017 kami mengikuti simposium tersebut. Hadir dalam acara tersebut Professor Marcello Amato yang merupakan key speaker dalam simposium tersebut. Beliau menekankan kepada peserta bahwa yang terpenting bukanlah PEEP ataupun Ppeak, melainkan driving pressure, yakni selisih dari keduanya dan tekanan inilah yang menentukan aktivasi alveoli dan pembatas supaya tidak terjadi VILI. Topik-topik menarik lainnya pun dibahas, karena simposium ini adalah joint symposium ISICM dan INASPEN, maka topik mengenai nutrisi pasien intensif pun mengemuka dalam simposium ini.

Sebagai penutup, kami mengharapkan setiap praktisi klinik yang bekerja di ruang intensif dapat mengikuti pelatihan ventilasi mekanik karena pelatihan tersebut sangat penting dan krusial dalam pekerjaan intensivist sehari-hari.  Hal tersebut bertujuan untuk menurunkan angka kematian pasien akibat terlambatnya pemberian bantuan ventilasi mekanik maupun akibat VILI.

Related posts