Symposium 29th APACRS

Dalam rangka mengikuti 29th APACRS(Annual Meeting of the asia-pacific Association of cataract & Refractive Surgeons) yang diselenggarakan selama empat hari pada tanggal 27 Juli 2016 lalu di Bali Nusa Dua Convention Center, RSU Kota Tangerang Selatan yang diwakilkan oleh dokter spesialis mata yaitu dr. Arif Budiman, SpM mengikuti acara tersebut yang diantaranya membahas mengenai Hasil Optimal visus dengan memasang IOLS TORIC, Prosedur Fakoemulsifikasi dengan femto second laser, Management Vitrektomi pada segmen anterior, Teknik fakoemulsifikasi teknik chopping dan teknik pre-chopping, prosedur phakic IOLS, prosedur Implant glaucoma dan prosedur bedah katarak pada anak.

Acara tersebut sangat bermanfaat sehingga dapat meningkatkan skill operasi dokter spesialis mata dengan menggunakan teknik fakoesmulsifikasi seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi di bidang mata. dimana pasien katarak ini banyak ditemui dalam praktik sehari-hari di RSU Kota Tangerang selatan.

Katarak adalah penyebab kebutaan utama diseluruh dunia, oleh karena itu bedah katarak menjadi tindakan bedah yang paling banyak dilakukan oleh dokter spesialis mata. sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi maka terjadi pula perubahan dan evolutif maupun revosioner dalam teknik pembedahan katarak. Hal itu sejalan dengan perubahan pardigma oftalmologi dari rehabilitasi kebutaan menjadi optimasi fungsi penglihatan.

Optimasi fungsi penglihatan akan meningkatkan kualitas kehidupan karena mata merupakan jalur utama informasi sehari-hari. Tindakan bedah refraktif bertujuan untuk optimasi fungsi penglihatan dan bercirikan pemulihan yang cepat, terukur dengan efek samping yang minimal serta memberikan kepuasan pada penderita atas pelayanan yang diberikan. Bedah katarak fakoesmulsifikasi adalah pintu gerbang untuk memasuki bedah refraktif dengan demikian merupakan keharusan bagi ahli bedah mata yang ingin memberikan kepuasan kepada pasien. Operasi katarak berbeda dengan operasi lainnya, karena tujuan utama (outcome) yang ingin dicapai baik oleh dokter maupun pasien adalah visus pasca operasi yang optimal dan ini tergantung dengan teknik operasi, sarana dan prasarana serta fungsi macula pasien.

Penemu fakoemulsifikasi, dr. Kelman (USA), teknik fakoemulsifikasi terus mengalami evolusi, diantaranya oleh Gimbel, Burato, Nagahara, Koch, Agarwal dll. Anesthesia merupakan bagian penting dalam operasi Katarak. Sekarang bius umum dan anesthisa blok jarang dilakukan mengingat komplikasinya yang banyak. Pada fakoemusifikasi anestesi topcal saja sudah cukup sehingga memberikan kenyamanan pada pasien.

Dalam melakukan fakoemulsifikasi, kita harus menguasai wound contruction dengan benar. langkah-langkah terpenting terdiri dari insisi, CCC(Reksis) dan penguasaan teknik phaco. Langkah berikutnya adalah hydrodissection yaitu melepaskan korteks dari epinukleus. dan hydrodelineation yaitu melepaskan epinukleus dengan nucleus. Setelah itu semua dilakukan baru kita melakukan fakoemulsifikasi dengan menghancurkan nucleus dengan gelombang ultrasonik.

Mengapa fakoemulsifikasi ? Tidak bisa disangkal fakoemulsifikasi hingga saat ini masih menjadi teknologi terbaik dalam bedah katarak karena memiliki sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki teknologi-teknologi terdahulu fakoemulsifikasi tidak membutuhkan anestesi dengan suntikan, bebas jahitan, balutan mata, dan perdarahan sehingga pasien bisa lebih cepat sembuh dan tidak memerlukan rawat inap. Waktu pengerjaan pun tergolong singkat, visus pasca operasi lebih baik. Semua keistimewaan ini mengarah kepada satu hal yaitu tingkat kepuasan pasien yang lebih tinggi.

 

 

 

Related posts