SINDROM OVARIUM POLIKISTIK (SOPK)

Pada tanggal 07 – 09 Oktober 2016 telah dilaksanakan Seminar Nasional Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK) Praktisi di Surabaya. dr. Wahyuningtyas SpOG selaku dokter spesialis kandungan dan kebidanan mewakili RSU Kota Tangerang Selatan berkesempatan untuk memaparkan ilmu mengenai Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK).
Sindrom ovarium polikistik merupakan kumpulan gejala dan tanda dari kelaianan hiperandrogen serta anovulasi yang diakibatkan oleh gangguan sistem endokrin. Kelainan ini dijumpai pada sekitar 5-10% perempuan umur reproduksi tanpa disertai adanya penyakit primer pada kelenjar hipofisis atau kelenjar adrenal yang mendasari .
Gejala dan manifestasi klinik terutama tampilan biokimiawi yang bervariasi, membuat etiologi dan patofisiologi SPOK belum semua terjelaskan.
Alasan yang sering meyebabkan pasien dengan sindroma ini datang ke dokter ialah adanya ganggguan pada siklus menstruasi, infertilitas, dan masalah obesitas serta serta kelainan lainnya seperti hirsutisme dan akne.
Untuk menegakkan diagnosis Sindrom Ovarium Polikistik (SPOK), digunakan klasifikasi ROTTERDAM tahun 2003, yaitu jika dijumpai 2 dari 3 gejala;
-oligoovulasi atau anovulasi
– Hiperandrogen (klinis atau laboratorium)
– Gambaran ovarium polikistik pada pemeriksaan USG.
Manajemen SPOK
Tujuan penangan SPOK adalah untuk penanganan jangka pendek, terutama remaja untuk meningkatkan percaya diri dengan cara mengurangi jerawat, hirsutism, mengontrol berat badan dan melancarkan haid. Selain itu bertujuan juga untuk penanganan dan pencegahan jangka panjang terhadap diabetes melitus, penyakit jantung, hiperplasia endometrium dan infertilitas.
Edukasi mengenai pentingnya perubahan gaya hidup untuk memperbaiki ganggguan hormonal yang terjadi.
Pendekatan pasien SPOK umur remaja berbeda dengan umur dewasa, karena permasalahan yang dikeluhkan pada umur tersebut berbeda.
Medikamentosa, pemberian pengobatan tergantung pada tujuan pasien. Beberapa pasien membutuhkan terapi untuk menormalkan haid, pasien lainnya membutuhkan induksi ovulasi. Hiperinsulinemia memainkan peran dalam SPOK terkait anovulasi, pengobatan dengan insulin sensitizer dapat menggeser keseimbangan endokrin terhadap ovulasi dan kehamilan, baik penggunaan sendiri atau kombinasi dengan modalitas pengobatan lain.

Related posts