PENATALAKSANAAN NYERI PASCA OPERASI

PENATALAKSANAAN NYERI PASCA OPERASI

Dalam rangka menghadiri Seminar dan Workshop Mukernas X Ikatan Penata Anastesi Indonesia di Sanur Paradise Hotel & Suites, Denpasar – Bali pada tanggal 6-9 Oktober 2016, penulis bermaksud untuk membahas mengenai nyeri pasca operasi

DEFINISI NYERI
Nyeri pasca operasi merupakan efek klinis yang biasa dijumpai pada pasien yang menjalani operasi. Nyeri yaitu suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, berkaitan dengan kondisi aktual atau potensial kerusakan jaringan atau luka sayatan. Tipe nyeri ada dua jenis; pertama nyeri nosiseptif yang disebabkan oleh aktivasi nosiseptor (reseptor nyeri) sebagai respon terhadap stimui yang berbahaya; kedua adalah nyeri neuropatik yang disebabkan oleh sinyal yang diproses di sistem saraf perifer atau pusat yang menggambarkan kerusakan sistem saraf.

PENILAIAN NYERI
Penilaian dan pengukuran derajat nyeri sangat penting dalam proses diagnosis penyebab nyeri. Dengan penilaian dan pengukuran derajat nyeri dapat dilakukan tatalaksana nyeri yang tepat,evaluasi serta perubahan tatalaksana nyeri sesuai dengan respon pasien, nyeri harus diperiksa dalam suatu kerangka biopsikososial dengan memperhatikan faktor fisiologis, psikologis serta lingkungan

Penilaian nyeri meliputi :
1. Anamnesis umum
2. Pemeriksaan fisik
3. Anamnesis spesifik nyeri dan evaluasi kemampuan yang ditimbulkan nyeri:
a. Lokasi nyeri
b. Keadaan yang berhubungan dengan timbulnya nyeri
c. Karakter nyeri
d. Intensitas nyeri
e. Gejala yang menyertai
f. Efek nyeri terhadap aktivitas
g. Tatalaksana yang sudah didapat
h. Riwayat penyakit yang relevan dengan rasa nyeri
i. Faktor lain yang akan mempengaruhi tatalaksana pasien
Dengan penilaian nyeri yang lengkap dapat dibedakan antara nyeri nosiseptif (somatik dan visera) dengan nyeri neuropatik
• Nyeri somatik dapat dideskripsikan sebagai nyeri tajam, panas atau menyengat yang dapat ditunjukan lokasinya serta diasosiasikan dengan nyeri tekan lokal disekitarnya
• Nyeri visera dideskripsikan sebagai nyeri tumpul, kram atau kolik yang tidak terlokalisir yang dapat disertai dengan nyeri tekan lokal, nyeri alih, mual, berkeringat dan perubahan kardiovaskular
• Nyeri neuropatik memiliki ciri khas:
a. Deskripsi nyeri seperti terbakar, tertembak atau tertusuk
b. Nyeri terjadi secara paroksimal
c. Spontan serta tanpa terdapat faktor
d. Presipitasi
e. Terdapatnya diastesia (sensasi abnormal yang tidak menyenangkan yang timbul spontan ataupun dipresipitasi), hiperglasia ( peningkatan derajat respon terhadap stimulus nyeri normal), alodinia (nyeri yang dirasakan akibat stimulus yang pada keadaan normal tidak menyebabkan nyeri) atau adanya hipoestesia
f. Perubahan sistem otonom regional (perubahan warna, suhu, dan keringat) serta phantom phenomena
PENGUKURAN DERAJAT NYERI
Ada tiga cara untuk melakukan pengukuran derajat nyeri:
1. Pengukuran derajat nyeri mandiri
2. Pengukuran derajat nyeri dengan pendekatan tingkah laku
3. Pengukuran derajat nyeri dengan pendekatan biologis
Pengukuran nyeri sebaiknya dilakuan pada posisi statik (istirahat) maupun dinamis (duduk, batuk). Pengukuran nyeri statik berhubungan dengan kemampuan pasien untuk tidur, sedangkan pengukuran nyeri dinamik berhubungan dengan hiperglasia mekanik dan menentukan apakah analgesia yang diberikan cukup untuk penyembuhannya.

JALUR PEMBERIAN SISTEMIK
Obat analgesia opioid dan non opioid dapat diberikan secara sistemik dengan berbagai cara. Pemilihan cara pemberian pemberian obat dapat ditentukan dengan berbagai faktor, meliputi; etiologi, keparahan, lokasi dan type nyeri; kondisi dari pasien secara menyeluruh dan karakteristik dari teknik pemberian yang dipilih. Faktor tambahan yang dapat dipertimbangkan lagi adalah mudahnya cara penggunaan, kecepatan onset analgesia, realitas efeknya pada pasien, durasi obat.
Berikut cara jalur pemberian sistemik:
1. JALUR ORAL
Pemberian obat analgesia secara oral adalah sangat mudah, non invasif , memiliki efikasi yang baik dan diterima dengan baik oleh pasien. Selain dalam penanganan nyeri akut yang berat, pemberian secara oral tidak ada kontraindikasi penggunaannya. Jalur oral ini adalah cara paling banyak dipilih dalam pemberian sebagian obat analgesia. Keterbatasan pemberian oral adalah muntah atau memperlambat waktu pengosongan lambung. Bila analgesia oral dengan dosis multipel diberikan sebelum motilitas lambung normal kembali akan menimbulkan akumulasi dosis yang kemudian masuk melalui usus halus kedalam tubuh kembali secara bersamaan (efek dumping). Ini akan menghasilkan uptake sistemik yng tidak bisa diduga dari obat tersebut dan meningkatkan resiko terjadinya efek samping yang merugikan.
2. JALUR INTRAVENA
Obat analgesia yang diberikan melalui rute intravena memiliki onset yang lebih cepat dibandingkan dengan cara pemberian melalui rute lain.
3. INFUS CONTINUE
Infus continue dari obat golongan opioid menghasilkan level obat yang konstan dalam plasma darah ssetelah kira-kira empat waktu paruh opioid digunakan. Tujuan dari penggunaan infus ini adalah untuk menghindari masalah akibat puncak kadar obat dalam plasma darah melalui teknik pemberian intermiten, akan tetapi beberapa variasi respon pasien akibat perubahan insensitas nyeri akut dan jeda waktu antara pemberian dosis infus dan efek yang diharapkan menghasilkan ketidakadekuatan terapi penanggulangan nyeri akut atau menimbukan efek samping yang tertunda seperti depresi nafas.

4. JALUR INTRAMUSKULAR DAN SUBKUTAN
Injeksi analgesia secara IM dan subkutan (biasanya golongan opioid) masih sering dipergunakan untuk menangani nyeri sedang sampai berat. Absorpsinya dapat terganggu oleh keadaanyang perfusinya sangat jelek (misalnya hipovolemik, syok, hipotermi atau imobilitas) hal ini juga disebabkan karena terlambatnya pemberian analgesia dan absorpsi yang lambat saat perfusi sudah kembali normal.
5. JALUR REKTAL
Pemberian obat melalui jalur rektal adalah sangat bermanfaat apabila rute yang lain tidak bisa dipergunakan. Hasilnya yaitu melalui penyerapan kedalam pleksus venos submukosa dari rektum dimana drainasenya pada vena rektalis superior, medius dan inferior. Obat diserap dari separuh bagian bawah rektum akan menuju kedalam vena rektalis medius dan inferior lalu menuju ke vena cava inferior melalui sistem porta dan mengalami first pass hepatic metaboism. Masalah potensial yang dialami melalui rute rektal pada pemberian suatu obat adalah berkaitan dengan variasi absorpsinya, menyangkut juga masalah yang memang ada pada rektal itu sendiri dan faktor kultural. Kontraindikasi penggunaan rute rektal ini adalah terdapatnya lesi di rektal, pasca bedah kolorektal yang belum lama berselang dan penurunan respon imun. Apabila obat tersebut diberikan pada pasien yang masih sadar atau dalam pengaruh anestesi adalah sangat penting untuk memberikan inform consent kepada pasien atau keluarganya sebelum diberikan melalui rute tersebut.
6. JALUR TRANSDERMAL
7. JALUR TRANSMUKOSA
Obat yang diberikan lewat transmukosa diabsorpsi secara cepat menuju sirkulasi sistemik tanpa melewati first-pass hepatic metabolism. Obat-obatan yang sering dipergunakan dalam penatalaksanaan nyeri akut adalah opioid yang cepat larut dalam lemak.
8. JALUR INTRANASAL
Beberapa jenis obat yang dapat dipergunakan melalui intranasal (IN) termasuk didalamnya adalah obat analgesia. Mukosa hidung manusia mengandung enzim yang dapat memetabolisme obat akan tetapi tingkat signifikansinya secara klinis masih belum diketahui. Hal ini disarankan supaya volume obat yang diberikan melalui intranasal tidak melampaui 150mikroliter untuk menghindari masuknya obat ke ronggaa faring.

9. JALUR BUKAL DAN SUBLINGUAL
Saat obat analgesia diberikan secara sublingual, efikasi mereka tergantung dari berapa bagian obat yang secara tidak sengaja tertelan.
10. JALUR PARU DAN INHALASI
Opioid sangat cepat diserap setelah diberikan secara nebulasi inhalasi, hal ini disebabkan karena tingginya aliran darah pada permukaan dan permeabilitas dari paru-paru.

Related posts