Manajemen Anafilaksis pada Alergi Obat

IMG-20160829-WA0002World Congress Of Internal Medicine yang diselenggarakan pada tanggal 23 – 25 Agustus 2016 di Bali dan dihadiri oleh dr. I Gede Swastika menjelaskan mengenai Anafilaksis pada alergi obat. Anafilaksis adalah reaksi hipersensitivitas sistemik yang berat dan mengancam nyawa. Walaupun jarang terjadi, tapi insidensi semakin meningkat. Banyak kasus yang tidak dilaporkan sampai yang tidak terdiagnosis.

Untuk itu pengetahuan gejala dan tanda anafilaksis penting untuk manajemen pasien. Diagnosis anafilaksis terutama didapatkan dari anamnesis, yaitu adanya paparan agen, waktu antara paparan dengan gejala, dan perjalanan gejala dan tanda anafilaksis yang terjadi dalam hitungan menit atau jam. Target organ yang terlibat termasuk kulit (85%-90%), saluran pernapasan (60%), saluran pencernaan (25-35%), kardiovaskular (20-30%) dan susunan saraf pusat (10-15%). Untuk mempermudah secara praktis, Organisasi Alergi Sedunia mengajukan tiga kriteria, di mana anafilaksis terjadi jika memenuhi beberapa kriteria tersebut.

Ada beberapa langkah manajemen anafilaksis pasien, seperti penilaian fungsi organ vital, injeksi epinefin, pemasangan jalur intravena, pemberian oksigen dan posisi yang tepat. Pengertian tentang faktor pencetus, mekanisme dan faktor risiko tertentu yang spesifik pada pasien adalah sangat penting untuk manajemen anafilaksis. Faktor pencetus medis seperti antibiotik, NSAID, analgetik, agen biologis, dan media kontras pernah dilaporkan. Pasien usia lanjut mempunyai risiko lebih tinggi jika mempunyai asma, PPOK, atau penyakit salauran pernapasan lain, penyakit jantung, dan yang menggunakan obat beta adrenergik bloker. Penggunaan obat beta adrenergik bloker dan penghambat ACE untuk mengobati penyakit kardiovaskular menyebabkan anafilaksis sulit untuk diobati.

Untuk pencegahan, menghindari faktor pencetus sangat penting. Jika tidak bisa mengganti dengan obat lain, dokter ahli alergi harus melakukan teknik desensitisasi. Karena anafilaksis tidak dapat diprediksi, dapat terjadi pada semua pasien, kapanpun dan dimanapun, persiapan gawat darurat sangat penting. Untuk itu pengetahuan anafilaksis sangat penting bagi tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga.

Daftar Pustaka :

Management of Anaphylaxis in Drug Allergy, Heru Sundaru (Indonesia) Division of Allergy & Clinical Immunology Department of Internal Medicine Faculty of Medicine UI / Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta.

Related posts