RSU Kota Tangerang Selatan membeberkan rahasia agar tetap dapat hidup sehat dan berkualitas di masa tua.

Hal itu semua, dipaparkan secara gamblang dalam suatu acara webinar bertajuk "Menyambut Hari Tua yang Berkualitas" yang digelar oleh RSU Kota Tangsel pada Senin (30/5/2022) lalu.

Dalam kegiatan tersebut, Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RSU Kota Tangsel, dr. Yuni Ekowati, Sp. KFR memaparkan kiat-kiatnya.

Menurutnya, faktor utama yang harus diperhatikan adalah pola pikir atau persepsi ihwal masa tua atau lanjut usia (lansia) itu sendiri.

Hal utama yang harus dipahami, adalah bahwa penuaan merupakan proses alami pada manusia dan tak dapat dirubah.

"Yang menjadi poin penting adalah seringkali di masyarakat kita itu, lansia belum mendapatkan perhatian yang baik. Karena masih beranggapan persepsi bahwa lansia itu identik dengan sakit, sensitif, lamban, dan tidak produktif. Pokoknya hal-hal yang dianggap masih menjadi perubahan alamiah dan hal yang wajar, dan justru menjadi hal yang dibiarkan," ujar Yuni saat membeberkan materinya dalam webinar kesehatan RSU Kota Tangsel tersebut.

Hal itu justru sangat disayangkan. Sebab, lansia seharusnya mendapat pehatian yang khusus. Bukan justru dibiarkan atau diabaikan dengan kondisi yang muncul secara alami tersebut.

"Akhirnya membuat lansia itu terisolir dan kurang mendapat pehatian. Itulah yang sebenarnya menjadi poin penting, perlu adanya edukasi kepada keluarga atau masyarakat yang memang terdapat lansia," ungkapnya 

Ia memaparkan, dalam hal ini yang harus diperhatikan oleh masyarakat adalah "quality of life" atau kualitas hidup dari geriatri atau orang lanjut usia.

"Itu mencakup 6 aspek, yakni sehat secara fisik, psikis, sosial, spiritual, kognitif, dan lingkungan," paparnya.

Dari keenam aspek tersebut, biasa yang mudah diperhatikan adalah kesehatan secara fisik.

"Jadi misal dia termasuk lansia yang mandiri, secara fisik mungkin penyakit yang diderita tidak banyak dan masih aktif untuk aktivitas mandiri, bahkan mungkin masih bisa bekerja, mungkin itu tidak terlalu menjadi masalah," jelasnya.

Namun jika sebaliknya, seorang lansia menderita sejumlah penyakit yang dapat menghambat mobilitasnya dalam aktivitas sehari-hari, maka sangat dibutuhkan dukungan keluarga.

"Karena poin penting pada lansia, adalah bagaimana kita menciptakan agar lansia bisa mandiri mampu melakukan aktivitas kesehariannya secara mandiri. Terus bisa mobilisasi, atau bahkan sosialisasi. Lalu faktor resiko yang menyebabkan jatuh itu harus dievaluasi," tuturnya.

Dokter Yuni memaparkan, sejumlah masalah kesehatan yang biasa dijumpai pada lansia.

"Yang pertama adalah imobilisasi atau kurang bergerak dan beraktivitas. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh gangguan pada tulang, sendi, dan otot, gangguan syaraf dan penyakit jantung paru," terangnya.

 

Kemudian masalah kedua, yakni instabilitas atau tidak stabil dan biasanya menyebabkan mudah sekali terjatuh. Ketiga, adalah Inkontinensia atau gangguan berkemih. Penyakit ini biasanya ditandai dengan kebiasaan mengompol.

"Keempat gangguan intelektual atau demensia, kelima infeksi, lalu gangguan penglihatan dan pendengaran, serta konstipasi atau impaksi," sambungnya.

Tak berhenti sampai di situ, biasanya lansia juga kerap kali menderita depresi. Dalam masalah ini, Yuni mengatakan bahwa peran keluarga sangatlah diperlukan.

"Kemudian masalah lainnya adalah inanisi atau malnutrisi ataupun kurang gizi pada lansia. Selain itu, kerap ditemukan juga impecunity, iatrogenesis, insomnia, defisiensi imunitas, dan terakhir impotensi," paparnya.

Belasan permasalahan itulah, kata Yuni, yang harus diperhatikan pada setiap lansia.

Ia memaparkan, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan lansia.

Cara pertama, yakni melakukan tindakan promotif. Tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan semangat dan gairah hidup lansia.

"Sehingga nantinya mereka dapat merasa dihargai dan berdaya guna. Tindakan ini dapat dilakukan dengan promosi PHBS (pola hidup bersih dan sehat), gizi, penyakit degeneratif, peningkatan kesegaran jasmani, dan memelihara kemandirian," tuturnya.

Selanjutnya adalah melalui tindakan preventif. Tindakan ini dapat mencegah sedini mungkin terjadinya penyakit dan komplikasi akibat proses degeneratif.

"Tindakan ini, dapat mendeteksi sedini mungkin pemantauan kesehatan lansia, dapat dilakukan secara berkelompok," imbuhnya.

Lalu tindakan ketiga, adalah kuratif. Tindakan ini berupa pengobatan dan perawatan. Biasanya, dilakukan oleh instansi kesehatan atau dokter praktek.

"Lalu keempat tindakan rehabilitasi. Tindakan ini dapat berupa rehabilitasi medik, edukatif, pengembangan keterampilan atau hobi. Tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan fungsional semaksimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimiliki untuk mempertahankan dan atau meningkatkan kualitas hidup," terangnya.

Tindakan rehabilitasi ini, lanjut Yuni, dapat diberikan dalam bentuk latihan fisik, pemakaian modalitas fisik, penggunaan alat bantu dan prosthesis, serta modifikasi lingkungan.

"Untuk program latihan fisik, biasanya yang dilakukan adalah latihan penguatan otot, latihan untuk ketahanan, fleksibilitas atau kelenturan, serta latihan keseimbangan," lanjutnya.

Segala tindakan tersebut, kata Yuni, harus dilakukan guna memicu kemandirian dan semangat hidup lansia.

"Lalu permasalahannya, bagaimana dengan lansia yang tirah baring atau tidak mampu beraktivitas mandiri? Untuk permasalahan ini, lagi-lagi sangat diperlukan peran serta keluarga," terangnya.

Yuni menjelaskan, keluarga yang merawat harus memperhatikan dan mengetahui faktor-faktor yang dapat mencegah komplikasi akibat tirah baring lama.

"Seperti luka akibat penekanan, kontraktur atau kekakuan sendi, pneunomia, malnutrisi, dan lainnya. Sebab, komplikasi yang diakibatkan oleh tirah baring lama ini dapat menurunkan kualitas hidup setiap lansia," tandasnya. (ADV). Tangsel.ID